Sabtu, 02 Agustus 2008

Sebut Saja Ia Perempuan

Oleh Yusuf Ariel Hakim

Sebut saja ia perempuan. Entah mengapa aku suka sekali menyebutnya begitu. Satu yang pasti, aku tidak tahu persis pernah bertemu di mana. Barangkali ingatanku yang tak begitu cakap mengingat kenangan. Tapi mataku mengatakan kalau ia benar-benar perempuan, tak usah kau tanyakan yang logis kepadaku mengapa aku suka menyebutnya demikian, karena ia sendiri sangat suka sekali dipanggil demikian. Dan ia perempuan, sangat berterima kasih sekali padaku dengan sebutannya itu. Sejak saat itu ia perempuan selalu mengikuti kemana aku pergi.

Awalnya aku sangat kaku ketika ia perempuan memintaku bersedia menjadi teman bicaranya saat kita bertemu. Tentu saja, aku sangat sedikit curiga padanya, kenapa ia perempuan tiba-tiba membuat keakraban yang bagiku benar-benar sangat canggung. Ataukah ini hanya perasaanku saja yang berdebar-debar untuk mencoba respek berbicara dengannya. Dan sungguh-sungguh ternyata ia perempuan benar-benar tidak peduli dengan sikapku padanya.

Maka dari itu, aku meminta kau untuk sudi memecahkan kasusku yang sangat membuat hidupku menjadi sangat pelik. Itu pun kalau kau mau percaya pada semua ceritaku. Tapi meski kau tak percaya dengan ceritaku, aku tetap akan menceritakannya, tentu saja dengan gayaku sendiri untuk menceritakannya.

Satu yang pasti, aku pernah bertemu dengannya, ia sosok perempuan. Murni seorang dari wujud manusia yang berlekuk tubuh proporsional. Matanya yang lentik. Pipinya yang berlesung pipit. Dan dadanya yang berisi serta hidungnya yang mancung, menggambarkan seperti sosok selebritis yang pernah aku baca dalam sebuah tabloid perempuan.

Seperti sebuah kisah drama romantis atau seperti sebuah pertunjukkan teater, di mana tokoh perempuan yang selalu digambarkan klasik dengan airmatanya ketika dirundung masalah bercerita terbata-bata tanpa permisi dulu kepadaku, begini:

Setiap laki-laki selalu sama, begitu klasik dan pembual. Tak ada cerita yang tak pernah mengatakan sosok lelaki tak pernah selingkuh. Ah, mengapa aku begitu bodoh dan terpedaya olehnya, sosok lelaki.

Aku pun yang saat itu tengah berada di sampingnya, tentu saja merasa terkejut dan sedikit marah tatkala kejelekan kaumku diceritakannya, meski aku sendiri juga agak sepakat dengan kata-katanya itu, maka aku pun mencoba masuk dalam penceritaannya. Tentu saja, seperti lelaki dalam kisah-kisah romantis atau seperti sebuah pertunjukkan teater, aku pun pura-pura merasakan kesedihannya.

Setiap perempuan selalu sama, sepintar dan sepandai apapun dia, begitu mudah terpedaya dan mudah terbujuk rayuan gombal dari laki-laki. Tak ada cerita yang tak pernah mengatakan perempuan tak pernah terluka oleh laki-laki. Dan rupanya seakan-akan bagi mereka, bahwa menangis adalah sebuah senjata pamungkas bagi laki-laki. Bahkan banyak laki-laki bertekuk lutut dengan senjata mereka ini. Ah, mengapa aku begitu bodoh dan terpedaya olehnya, sosok perempuan.

Ia perempuan yang saat itu tengah berada di sampingku, tentu saja merasa terkejut dan sedikit marah, namun sedikit memberi senyum tatkala kehebatan kaumnya aku sebutkan. Dan ia pun mencoba masuk dalam penceritaanku yang sebenarnya hanya sebuah kisah pembicaraan yang tak pernah disengajakan ini, tapi merasa disengajakan oleh waktu yang sebenarnya tidak tepat ini.

Aku tahu engkau tak lebih sekedar berpura-pura dan sedikit beragumentasi untuk menyatakan bahwasanya engkau turut merasakan kesedihan diriku, bukan. Tak usah kau jawab, aku sebenarnya tidak butuh perhatianmu apalagi belas kasihanmu. Percuma, engkau berputar-putar mencari kata-kata hanya untuk menyejukkan hatiku ini, lelaki.

Gila, pikirku sosok perempuan ini. Tapi sebagai lelaki yang bolehlah disebut sejati, aku pun pura-pura menunjukkan keterkejutanku, kemarahanku. Tentu saja aku bungkus dengan embel-embel ketulusan kata-kata yang manis.

Nah itu yang kumaksud, terkadang engkau salah maksud dengan perkataanku, perempuan. Boleh kan aku panggil kau demikian? Apa untungnya aku mengasihanimu? Dan apa untungnya aku turut merasakan kesedihanmu. Serta untuk apa pula aku berputar-putar kata untuk menyakinkanmu apalagi bermanis-manis ria dengan kata-kata yang tak ada jelas maksudnya. Percuma! Engkau nangis sampai keluar matamu pun aku bahkan tak peduli. Sah-sah saja engkau menangis seharian atau kalau perlu berminggu-minggu sampai mungkin bertahun-tahun, toh aku tidak pernah ada kan dalam skenario ceritamu, bukan? Hahaha, lanjutkan kembali aja, rengekanmu itu. Aku rasa engkau suaramu benar-benar terasa merdu jika menangis. Ini bukan memuji, atau mencaci, tapi benar adanya dari pandanganku semata.

Aneh, pikirnya tentang aku ini. Gelagat penasarannya pun terbaca olehku. Dan aku mencoba menunggu jawabannya atas pernyataanku itu.

Diam.

Hening.

Sepi.

Tak ada suara.

Tak ada tangis.

Tak ada marah.

Tak ada kata-kata.

Detik.

Menit.

Jam.

Berlalu.

Gila, teriakku keras-keras memecah kesunyian. Kenapa kau tak bersua? Kenapa kau tak marah? Kenapa engkau diam? Kenapa tak menangis lagi? Kenapa? Bukan seperti patung begini. Sinting, perempuan edan, kau!

Diam.

Hanya terdengar gaung-gaung suaraku, memekakkan telingaku sendiri.

Jawablah perempuan, jawablah. Ini bukan kisah-kisah romantis atau sebuah pertunjukkan teater yang dramatis. Ini kenyataan, antara kau dan aku. Tidak ada penonton, maka bicaralah. Tidak ada siapa-siapa.

Sepi.

Hanya terdengar gaung-gaung suaraku, memekakkan telingaku sendiri.

Edan. Janganlah begini perempuan? Apa maumu dariku? Apa keinginanmu? Jawablah! Bersuaralah! Jangan bikin aku tolol dan menderita seperti ini.

Tiba-tiba aku melihat gelagat bahwasanya ia perempuan akan segera marah. Atau setidak-tidaknya membikin ucapan yang sepadan. Atau tamparan-tamparan tangan di wajah seperti dalam kisah-kisah drama romantis di beberapa televisi yang pernah aku lihat.

Ia berdiri.

Ia berdiri.

Ia berdiri.

Terima kasih, aku suka dengan gayamu. Aku suka sekali kau memanggilku perempuan. Romantis. Belum pernah aku mendengar kata-kata sebutan itu, padaku lelaki. Perempuan, ya perempuan. Mungkin itu nama yang pantas untukku, atau memang benar-benar itulah namaku yang telah aku tanggalkan beberapa tahun lalu. Perempuan, yaya perempuan, yaya perempuan tiba-tiba ia tertawa sendiri seperti tak mengacuhkan kehadiranku di sisinya.

Kakiku lemas.

Bibirku bengong.

Dan ia perempuan masih tertawa, sendiri.

Keras dan makin keras.

*****

Biodata penulis:

Yusuf Ariel Hakim. Lahir di Surabaya, 1 April 1982. Bergiat di KRS (Komunitas Rabo Sore). Masih tercatat sebagai Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya.

Kamis, 05 Juni 2008

sajak-sajak Arif Rahman Asydiqi

Mimpi Lebah

Aku masih mengingat
wajahmu saat membelah
gelisah sunyi di tempat orang orang
mengumpulkan harap.

Mula mula kau berkisah tentang kenari
yang sayapnya patah dipukul
riuh kering tawa anak anak,

hingga gambar bunga di kamarmu
yang dihinggapi mimpi lebah
agar ia bisa berhenti menyusu matahari
sebab ia ingin menjadi biru, biru,

setelah itu kau pun pergi
dihantar angin nakal yang kerap
menggodamu

dan aku kembali mematung
seperti tidurmu
di siang dengung

(2007)



Pengantin Bulan

Aku begitu malu
pada tubuhku yang tak lagi
ditumbuhi sungai

sebab anak anak kemarau
telah memeluk pundakku
aku lihat november telah memilih

hujan sebagai kekasihnya
seperti pengantin bulan
yang berjalan
di taman perawan

aku pun tak tega
mengusik musik percintaan mereka
dengan ceracau dan rindu,

mungkin,
aku sekarang tak lebih
seperti patung usang
yang mendiami lengan penyair biru.

(2007)


Hulu Cemas

Bumi menjadi ladang
air tak pernah henti
tumbuh di satu sisi,
kemudian kawin
beranak di seluruh tepi.

Jika saja kayangan runtuh
maka tanah inipun
akan menjadi hulu cemasku
sebab disana juga ada sungai
yang mengalirkan dosa
orang orang yang nuraninya terbelah
jauh dari tubuh:

Maka masihkah ada Nuh ?

(2007)



Arif Rahman Asydiqi lahir di Surabaya 24 November 1986. Mahasiswa Sastra Jepang, Universitas Negeri Surabaya, (Unesa). Bergiat di Komunitas Rabo Sore (KRS) dan Teater Institut. Puisinya mengisi media kampus, jurnal Poros Sastra Timur, koran surya, juga terkumpul dalam antologi Komunitas Rabo Sore Jilid II"Duka Muara" Sekarang bermukim di jl. Jend. Sutoyo 17A 61256 Waru Sidoarjo

Selasa, 27 Mei 2008

Sajak Dodik Kristianto

Bendi

ia akan lewat, tepat jam 12 malam
dengan kuda yang kugambar dari tamasyaku
tapaknya masih mengambang dipadang hijau
sampai dicurinya sepatu di kakiku,
jantung kami seperti mayat menyatu

pada satu kesempatan, barangkali
kudapati keretakereta itu berlari
menghentikan mimpi
dan rumput yang kering sendiri

2008


Menara Gading
-Octavio Paz

di depan sergapan puisimu, aku akan bersiap
memasukimu, mengitari halaman yang telah
memecahku, mencuri kilatan bayanganku

aku terpesona gerimis yang melindungimu
jalanku kau buka, batubatu kau remukkan
agar aku mampu berguru pada bahasa luka

seperti nasib milikku tumpah dalam
gelas kristal bianglala. tapi seperti perasaan
kanakku yang ingin tahu, ada jutaan kota
berkerak di mesin pikirmu

sebelum akhirnya kau padatkan di dunia kelam
kau masuk pada puisi. dahagaku kau gubah
jadi kebahagiaan

hikmatilah, sebab wajahmu kusentuh perlahan
lalu hilang di antara daratan bulan

seperti kumimpikan tubuhku berbaring
dan masa laluku melayang di depanmu

2008

Dody Kristianto, lahir di Surabaya, 3 April 1986. masih berkuliah pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Menulis puisi, cerpen dan sedikit geguritan. Karya-karyanya lebih banyak terpublikasi pada jurnal independen dan media online. Beberapa puisinya juga terangkum dalam beberapa antologi, seperti Eksekusi Kata (2006), Surealisme Cinta (2007) Kemayaan dan Kenyataan (2007). Duka Muara (antologi bersama KRS 2008) Bergiat pada Komunitas Rabo Sore (KRS) dan dipercaya sebagai redaktur Jurnal Rabo Sore. Saat ini tinggal di Sidoarjo.

Minggu, 25 Mei 2008

PUISI M. Ashif Hasanuddin

Bulan Sipit


bulan sipit itu, seraya berlari dalam fantasiku,
mengejar waktu yang terbentur dengan malam keenam

aku tak siuman olehnya, malah menikmati
separu wajahnya lewat sela-sela daun palam

sayup-sayup terdengar suara lirih membisik telinga
agar aku membuka gelaran sajadah malam

untuk menimbah air lebih banyak
karena bulan sipit bertanda bahwa;

malam ini masih muda,
masih muda…

Surabaya, 29 September 2006


Ponten tanpa Pintu

: ira

aku baru saja mengukur jalan yang melengkung sedikit
di mana, disampingku teknologi mengalir deras di atas karet berulang kali
disana, disaat sepatu dan kaki terlempar bersama-sama
dipinggir tembok yang berjejer gambar telanjang itu
taufan agak santer menembak pada bagian muka dengan seni-seni sengat

separuh jalan telah usai ku tempuh
tahu-tahu langit bukan lagi lautan melainkan
sepatu perajurit bersemir kilat memahat dengan air di kepala
yang menambah aroma baru. serta menggilakan alat bicara
“kelamin jantan tak berpendidikan”

baru 5 menit matahari kembali telanjang
aku tinggalkan tempat berteduh menuju perhubungan
: ponten tanpa pintu adalah perjamuan pertama mataku
apakah 500 rupiah kau tak punya?
padahal lebih aman, bersih tanpa polusi

Surabaya, 14 Mei 2007

M.A. HASANUDDIN Lahir di Gresik, 29 Maret 1987. Kini tercatat sebagai Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, UNESA. Sekarang dipercaya sebagai ketua Komunitas Rabo Sore (KRS) hingga 2009.

Rabu, 21 Mei 2008

sajak-sajak A.Muttaqin

Rumah Batu

Di jantungku,
ingin kubuat rumah batu,
supaya bisa kumasukkan kau
ke situ. Lalu,
kugali sebuah telaga,
bertabur ikan mungil
yang lalu memanggil namamu.
Setelah itu,
lewat mulutku yang perih
menyusut aku menyusulmu
agar tak perlu aku berkata
untuk cinta, dan
kita sama bercanda-manda
menatap tuhan mungil
yang kubuat
dengan satu kata purba

(2008)


Ulat

Daun-daun ini yang mengajarku merapai bunyi,
menghikmati matahari yang silih-berganti dengan
baju subur berderai, memekari bunga dan mimpi,
memanggili batu dengan bahasa lampau, agar
kembali berdenyut sepurut jantungmu, memecah
selunguk rumah lapuk nan sepi, seperti saudaraku:
Sokhabatmu, yang mendengung dan terbang dari
kembang ke tembang, dari bayang ke remang.
Tapi, ia selalu berpulang ke dadamu, ke sepasang
goa mungil di gunung putihmu, di mana ia mula
membuka mata, memulai kembara, menghisapi
susu perdu dan memanggilmu ibu. Apakah dia
anakmu? Anak dari pengucapan dalamku, yang
(seperti kupu-kupu) menjauh dari ujung lidahku.

(2008)

Marley

Gerimis yang nitis di telingaku menerbangkan
pasangan codot yang bertahun-tahun menunggu di
situ. Menunggui buah kuno yang mirip mengkudu.
Seraya menukar kaki dan kepala, seolah tabik pada
tanah. Sebab jangkrik dan walang kerik tengah
bernyanyi, membagi perih dan pergi, seperti aku
yang hendak meninggi, menyusul kupu-kupu yang
terbit dari bibirmu. Kupu bersayap hijau yang
terang menjauh dari bunga tembakau ke kerdip
bintang pengacau. Sampai segala satwa melonjak
bersama katak nan sorak. Dan gerimis di telingaku
menebar benih putih, yang lebih subur dari jamur,
lebih manjur dari puisi lulur.

(2008)

Kupu Terakhir

Terbang jualah yang membuatmu bimbang,
biar tak sanggup kau menghilang,

meninggalkan sekuncup rindu di dadaku
yang tengadah mengimpikanmu:

Kau, yang memekarkan kuncup perdu
di mataku, mata batu, juga bulir padi

yang gemetar, menahan birahi mawar
dan musim memar.

Di ranting garing,
senja dan gagak terbaring,

seperti tak kuasa mengelak semerbak
yang menanjak ke ujung kening.

Dan di puncaknya yang bediding,
Kau pun datang,

membimbing ajalku
berpaling, ke puncak hening.

(2008)

A. Muttaqin, lahir di Gresik, Jawa Timur, 11 Maret 1983. Lulus Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Bergiat sastra di Komunitas Rabo Sore.

Sajak-sajak Alek Subairi

Tafsir Ikan


Telah kurindukan sengau batu hitam berlubang, tempat benih-benih bersemayam. Juga tangis kecil perempuan yang ingin sampai kepada akar-akar pohon yang membadai. Agar ada yang tetap tegak meski jejak musa ditafsir ribuan air kali. aku melihatmu melepas baju kehormatan. lantas udara mengirim salam terbuka. Datanglah seperti kau menghampiri makan malammu dengan empat orang kenalan.

Masing-masing ingin menuang air putih ke gelasmu

Orang pertama datang dari ketulusan karena engkau setia mendengar keluh kesah, meski punggungmu lumut menggigil. Dan malam yang kau sulam kembang setaman, menemukan kekasih dengan ombak kecil di dahinya. Bukankah pandanganmu telah kau jatuhkan kesemua arah? lantas kau leluasa berenang. Semakin jauh ke dalam

Orang kedua adalah kejujuran yang kau angkis dari ceruk duka. Lalu kau kabarkan kesetiaan pada mata, telinga, hidung, mulut, kelamin, juga dada yang menyembunyikan laut abad-abad yang tenggelam. Mata kirimu bersaksi saat mata kanan mengerling pada bunga ombak. lalu kau kirim alamat pada mata kaki
“Wahai mendekatlah pada yang lemah, seperti rindu nelayan pada tumpukan pasir”

Orang ketiga datang dari kerumunan. Ia dari bangsa perempuan, namanya, rahim. Bila anjing menghardik dan pintu pagar berwarna kelam, kau melambaikan pelukan seperi bisik gerimis di kebun belakang.
”Jangan tidur di kala petang. Sebab urat nadi ingin benar mendengar kepak warna yang meninggalkan rumah pelan-pelan.

Orang keempat adalah pengertian. Kadang wajahnya securam lembah. kadang perawan yang datang menirukan bunyi gamelan. Kali ini ia menutup separuh wajahnya dengan kain hitam. Mengabarkan laut yang terbelah. Lalu matanya menjadi ikan-ikan yang berenang ke dalam kalbu. Kalbu menjingga, menerima uluran tangan ibu semesta

“Paman, paman! hatiku menagkap ikan yang melompat dari kematian”


surabaya 2008

Labang mesem

Aku dulunya, airmata yang terlempar dari mata kanan anak gadis di bawah petang yang diburu. Karna seorang lelaki yang menanam biji matanya pada daun salam, telah mengasah hari depannya dengan lengkung besi. Lalu aku tumbuh menjadi sebatang pohon yang memberi naung pada tualang. “siapakah namamu dinda?” tanya seseorang yang menaruh kembang tujuh warna di akarku.

Akupun memuncak sewarna kuning pengantin. Di bawahku, umbul-umbul dan bunyi-bunyian yang mengabarkan rahasia selendang.”Wahai, siapakah di antara kalian yang kelak menerjemahkan bibirku yang bisu” lalu hujan tak datang. Orang-orang mencari sungai. Juga tetabuhan yang mengundang bianglala.”Adakah yang hendak memberi senyuman dalam kering begini?”

“Tunggu aku di bawah beringin, kanda. Jika kau setia pada biji mata yang kau tinggalkan di keningku. aku pasti datang bersama kabut tipis yang menyimpan anak-anak gerimis. dan pada hari itu, hadapkan wajahmu pada gundukan tanah, tempat gembala mengawasi kambing-kambing. Bukankah telah kau rindukan airmatamu sendiri?”

Lalu pertemuan itu, seperti maut yang mendekati orang-orang kudus, seperti gadis yang mengangguk.kepada pinangan yang dijanjikan

2008

Bunga Ombak


Gerangan apakah yang menuntun bunyi liris dari debur yang kelam
orang-orang dalam kidung berangkat menggali subuh seperti nuh.
suaranya, suara angin berulang-ulang di dahan-dahan. Adakah yang jatuh sebagai sabda pagi nanti? Lalu kerling anakku mengupas buah jamal yang jauh dari ingatan.

Hanyutlah rinduku bersama bunyi liris ke sendang-sendang. Menghijau rumput dan kenangan kepada inkarnasi. haina, haina, bulan buntung minta ditanam, bulan buntung minta ditimang. Sebab
rumahnya mau di makam

Duhai, berapa kali telah ku lagukan riang-murung ombakmu supaya
tirakatku menjelma ikan yang mengerti arah kebajikan. Lalu mataku yang majnun tak lagi berdusta pada kematian. sebab tubuhku berlayar ke palung namamu paling perempuan

Haina, berikan kecupanmu, agar laut tenang kembali.

2008




angon

akupun kembali asing ketika pohon tubuhku
menemukan musim kemuning yang membawa jejak lapar
ambillah satu dan bawa pergi kekasihmu ke tempat yang teduh

angin kecil datang dengan hembusan amat kuat
berikan tanganmu, agar aku lewati kesumat ini dengan
keringat dan tatapan yang mengurai tapal batas

lalu tak ada mimpi pada malam berikutnya. sebab udara telah
membangkitkan yang semula terpendam. aku telanjang, gusti.
dan jendela mataku melihat isyarat warna bermekaran

ku dekati yang paling hijau untuk memastikan risalah tangis
yang menjelma gerimis. lalu benih dari tualang rindu tumbuh
menjadi kerling mata kambing yang berlari ke luar pagar

berikan pelukanmu sebagai penanda kepulanganku kelak.
bahwa kau juga menanam kembang pada jejak yang kau tinggalkan
lalu kubaca air yang turun begitu ritmis.

o, mengapa menangis


november 2007

Bentuk Kematian Anjing

oleh

Dody Kristianto*


Bangkai anjing itu tergeletak di tengah jalan raya. Anjing jenis herder. Semua kendaraan berusaha menghindari bangkai anjing itu. Situasi jalan sedang ramai. Maklum, pagi hari ketika orang harus pergi ke tempat kerja. Tidak ada satu kendaraan pun yang berani melindas bangkai anjing itu.

Tubuh anjing itu terbelah menjadi dua bagian : bagian kaki ke ekor dan bagian kaki sampai kepala. Pada bagian kaki sampai ekor, tubuh itu telah burai, hancur berkeping-keping sehingga daging anjing itu berceceran. Sudah tak dapat lagi dikenali. Sedangkan bagian kaki sampai kepala masih utuh. Seolah nampak kalau hewan itu hanya tidur. Tidak ada sesuatu yang terjadi padanya.

Lidahnya nampak merah muda menjulur. Taring-taringnya masih terlihat utuh walau sedikit kekuningan. Tatapan matanya tampak mengarah ke depan. Kosong. Tapi sedikit terasa aneh, karena sepasang bola mata hewan itu seperti menyimpan sebuah dunia. Dunia yang dilihat dan ada dalam pikirannya.

Lalat-lalat pun berkerumun di bagian belakang bangkai anjing. Hewan-hewan kecil itu tampak menari menikmati daging segar yang berserakan. Bau bangkai itu masih segar. Tidak anyir seperti lazimnya bangkai tikus yang biasa tergeletak di sembarang tempat. Kesegaran daging bangkai anjing itu tentu menarik sebagian pengguna jalan. Walau sebisa mungkin mereka menghindar dari tumpukan daging itu, mereka tidak bisa menyembunyikan ketertarikan mereka pada pemandangan langka tersebut.

Waktu hampir menunjukkan pukul 7 pagi. Tak ada yang berani menyentuh bangkai anjing itu. Bahkan kendaraan-kendaraan yang melintas sebisa mungkin tidak menginjak dan membuat keburaian bangkai itu bertambah parah. Lalat-lalat masih terlihat mengerubungi bagian belakang bangkai anjing.

***

Pukul 8 pagi. Polisi mulai mengevakuasi bangkai anjing itu. Karena satu jam sebelumnya, jalanan dibuat macet karena bangkai yang tergeletak di tengah jalan. Evakuasi tentunya tambah memadatkan jalan. Bahkan tak jarang polisi harus mengatur arus lalu lintas. Sementara tim yang lain mengangkat bangkai anjing itu. Dua polisi yang menangani bangkai itu.

Bagian depan, kaki ke kepala bias terangkat dengan mudah. Tapi untuk bagian belakang, kaki ke ekor, mereka harus melakukannya dengan teliti dan hati-hati. Sebab bagian itu sudah berupa ceceran daging dan bercak-bercak darah yang mulai mengering. Ceceran daging harus dibersihkan dari aspal jalan agar tidak meninggalkan bau anyir menyengat yang bisa mengganggu pengguna jalan.

Sekitar satu jam evakuasi itu berlangsung. Polisi mulai meninggalkan lokasi tergeletaknya bangkai anjing itu. Lalu lintas sudah mulai lancar. Tentu noda bercak darah masih tertinggal di aspal jalan. Lalat-lalat kini berebut mengerubungi bercak darah yang mulai mengering.

Sementara, bangkai anjing itu berada di atas mobil polisi. Polisi menumpuk dua bagian yang terpisah itu. Bagian yang telah hancur di bawah dan yang masih utuh di atasnya. Tatapan mata bangkai itu masih menatap kuat. Masih tetap kosong. Seakan mata itu sulit dipejamkan. Tatapan itu seperti menyimpan sebuah dendam.

***

Seperti anjing-anjing yang biasa berseliweran di daerah itu, anjing itu pun tidak terlalu terlihat istimewa. Ia juga melakukan rutinitas seperti anjing jalanan yang lain. Mengais makanan sisa di tempat sampah, terkadang berkelahi memperebutkan makanan atau pasangan, juga bersetubuh dengan anjing betina di sembarang tempat. Sampai akhirnya mencari tempat untuik berteduh.

Yang membedakan ia dengan anjing-anjing yang lain adalah ia bertubuh lebih besar. Bulunya sedikit berwarna gelap. Kendati demikian, hal tersebut tak lantas membuat anjing-anjing lain takut padanya. Sebab ia bukanlah anjing yang tumbuh besar di jalanan. Ia sebenarnya anjing penjaga rumah.

Anjing dulu mempunyai seorang majikan. Majikan yang sangat baik dan menyayanginya. Semenjak kecil anjing itu dirawat dan tinggal bersama dengan keluarga si majikan. Anak-anak si majikan kerap bermain dengan anjing itu. Anjing itu menjadi bagian dari keluarga itu.

Sang majikan setiap pagi dan sore selalu mengajaknya berkeliling kampung. Anjing itu melangkah gagah, seolah tak memperhatikan sorot tajam anjing lain yang tertuju padanya. Pada setiap malam, anjing itu juga sigap menggonggong pada setiap gerak-gerik mencurigakan yang ia tangkap di sekitar rumah sang majikan. Gonggongan yang sangat memekakkan telinga.

Namun, anjing itu menangkap bentuk aneh suatu ketika. Bentuk bayangan putih berbau menusuk. Bentuk bayangan putih itu membelah angin, memerosok ke dalam pepohonan hingga menimbulkan suara gemerisik. Suara yang mungkin akan membangkitkan orang-orang yang tertidur. Tapi anehnya, tak ada orang yang terbangun. Pun hewan-hewan yang berada di sekitar bayangan putih itu. Hanya anjing itu yang tahu. Hanya anjing itu. Anjing itu pun menggonggong sebagai wujud rasa penasaran terhadap bentuk aneh tersebut.

Bentuk bayangan aneh acapkali berkelebat di hadapan anjing itu. Sehingga hanay anjing itu yang mengakrabi bentuk aneh tersebut. Si majikan juga bingung dengan perubahan yang terjadi pada anjingnya. Saat si majikan melihat anjingnya menggonggong, ia menatap tak ada sesuatu di depan. Sesuatu yang kerap digonggongi oleh anjingnya.

Kebiasaan si anjing yang menggonggong tanpa sebab mengakibatkan bising dalam keluarga itu. Tak hanya keluarga itu, namun juga rumah di sekitar keluaraga itu. Mereka semua dibuat jengkel. Lama-lama sang majikan tak tahan juga. Diusirnya anjing yang sudah beberapa tahun mereka pelihara. Mereka merasa jika anjing itu sudah gila.

Anjing itu tak peduli. Ia tetap menggonggongi bayangan putih yang kerap melintas tiba-tiba di depannya. Lemparan sandal, sepatu maupun batu yang dilakukan orang-orang padanya tidak digubris. Hanya bayangan putih. Hanya bayangan aneh itu yang selalu mengganggu otaknya. Ia sampai menggonggong berhari-hari hanya karena rasa ingin tahu.

Suatu malam, anjing yang sedang tidur di bawah emperan toko itu dikejutkan oleh bayangan putih. Entah untuk keberapa kali. Anjing itu pun tergeragap. Ia terbangun karena bau menusuk yang ditimbulkan oleh bayangan aneh. Hewan itu mulai mengejar bayangan putih. Situasinya benar-benar mirip ketika si majikan melempar tulang dan anjing itu harus mengejarnya. Tapi yang dikejar saat itu bukan tulang. Yang dikejarnya adalah bayangan putih. Ia berusaha mendekap bayangan itu.

Sampai beberapa meter jauhnya, anjing itu tidak merasa bila ia telah mengejar bayangan putih hingga jalan raya. Jalan raya yang terlihat sepi. Hanya anjing itu berlari sendirian. Tiba-tiba dari arah selatan muncul truk tronton yang melaju kencang. Pengemudinya merasa tidak melihat apapun di depan. Sedang anjing penasaran itu akhirnya bias merengkuh bayangan aneh. Kakinya mencakar-cakar. Moncongnya menggigit. Ia mempermainkan sesuatu yang selama ini membuatnya penasaran. Ia melakukannya di tengah jalan raya yang sepi.

Dan tabrakan akhirnya 5tak terelakkan. Anjing itu terlindas, tepatnya di bgian belakang. Seketika ia melolong. Tubuhnya terbelah. Bagian belakang hancur lebur. Daging-daging berloncatan. Sedang bagian depannya masih utuh. Cakar anjing itu masih berusaha mengais bayangan putih yang perlahan lepas dari dekapannya. Lidahnya menjulur seolah merasakan sakit yang ia rasakan. Kakinya masih terlihat bergerak dengan interval yang mulai melambat. Sementara bayangan aneh itu makin bergegas jauh. Begitu juga dengan truk yang telah melindas bagian bagian belakang tubuhnya. Anjing itu akhirnya terdiam dengan tubuh yang terbelah jadi dua bagian. Sedangkan cuilan daging-daging segar berceceran di tengah jalan.

***

Pihak kepolisian memutuskan untuk mengubur bangkai hewan malang itu di halaman kosong. Sebuah area berjarak beberapa meter dari kantor kepolisian. Bagian tubuh yang hancur dibungkus dengan tas plastic. Sedangkan bagian tubuhnya yang masih utuh dibiarkan. Lubang berukuran 1x1 meter disiapkan, dengan kedalaman kira-kira semester juga. Kedalaman yang kiranya cukup untuk menutup bau bangkai yang menyengat.

Bagian belakangnya yang hancur ditaruh terlebih dulu. Baru setelah itu bagian yang masih utuh. Tatapan mata bangkai anjing itu masih tetap tajam. Ia menatap bayangan putih yang membuatnya penasaran. Dunia disekitarnya berubah menjadi bayangan putih. Bayangan yang mengelilinginya, sesaat sebelum bangkainya dipendam di dalam tanah.


*) Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Aktif di Komunitas Rabo Sore (KRS).

Rabu, 14 Mei 2008

Profil Komunitas Rabo Sore (KRS)

Profil KRS


Proses Berdirinya KRS
Komunitas Rabo Sore (KRS) berdiri pada tahun 2003 di FBS Unesa. Pada awal berdirinya KRS digagas oleh beberapa mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu (Jurusan) sebagai ruang bergerak dan menggerakkan ide-ide kreatif yang berkenaan dengan tulis menulis (sastra). Minimnya perkumpulan yang bergerak dalam dunia sastra, pada waktu itu, membuat beberapa penulis merasa perlu untuk menyamakan kegelisahan tentang arah dan tujuan menulis. Beberapa nama kemudian bersepakat melakukan pertemuan-pertemuan intens guna menelaah kembali pergerakan sastra indonesia, untuk kemudian menentukan sikap sebagai alur komunitas ke depan.

Komunitas atau perkumpulan mutlak dibutuhkan untuk memperjuangkan gagasan-gagasan kreatif agar daya jangkaunya lebih luas. Hanya saja komunitas macam apa, dengan bentuk bagaimana yang kira-kira sanggup untuk mewadahi para penulis yang dikenal sangat individualis dan idealistik. Bahkan untuk menentukan nama dan tempat saja akan membutuhkan perdebatan yang panjang dan berbelit-belit. Belum lagi benturan mengenai perbedaan yang menyangkut soal gaya, corak, atau isme yang membuntuti masing-masing penulis. Juga pergulatan kelompok yang pernah hidup di masa lampau yang kemudian menjadi bakteri-bakteri yang menyusup dan mempengaruhi cara pandang untuk memutuskan sesuatu.

Kemudian dari pergualatan pemikiran tersebut, secara perlahan mulai ada alur-alur baru yang memungkinkan untuk diserap sebagai karakter komunitas.Temuan-temuan baru yang dimaksud tentu saja bukan sama sekali baru, namun lebih kepada pengembangan-pengembangan dari sesuatu yang tercecer-cecer. Maka kemudian KRS secara perlahan menemukan bentuk dari gesekan-gesekan tersebut, sembari mempelajari sesuatu yang dirasa harmoni.

Munculnya media KRS
Dalam perjalannya KRS mengalami banyak guncangan, baik dari luar komunitas maupun intern KRS. Yang paling berat adalah guncangan dari dalam, yakni beberapa nama yang semula gigih beraktifitas, satu-satu mulai menyusut dengan menyisakan problem yang rumit. Hal ini memang telah disadari oleh beberapa yang lain sebagai seleksi alam. Dari berbagai peristiwa yang secara kasat mata dapat melemahkan kerja-kerja komunitas kedepan, kemudian memunculkan usulan-usulan untuk membentuk semacam media sebagai jalan untuk mengkomunikasikan gagasan kepada khalayak. Maka dibentuklah bulettin sastra yang terbit mingguan dengan nama ‘Lorong’.

Bulletin Lorong (BL) Memuat cerpen, puisi, esai, dan karya-karya terjemahan. BL mendapat sambutan hangat dari pembaca. Karya-karya yang dimuat BL tidak melulu karya dari KRS tetapi karya dari komunitas lain, dosen, dan beberapa penulis dari daerah, misalnya Blitar, Bangkalan, Sumenep, Lamongan, Gresik.

Namun Demikian BL tidak bertahan lama karena terkendala persoalan-persoalan administratif dan perangkat-perangkat pendukung. Hanya saja fakumnya BL menyisakan kecemasan yang menjadi geliat yang lain lagi ditiap-tiap person yang dikemudian hari membentuk jurnal sastra. Jurnal sastra terbentuk dengan nama ‘Khazanah’. Khasanah merupakan reinkarnasi dari BL. Khazanah hadir dengan kemasan yang lebih galak. Kupasannya lebih lengkap dan variatif. Selain Esai, cerpen dan puisi, Kzanah Juga memuat sastra komik. Dan profil komunitas di tempat lain Hanya saja beredar terbatas. Nama Khazanah kemudian dirasa kurang pas, karena berbagai alasan yang secara bathin tidak bisa dianggap remeh. Lalu Khazanah diganti dengan nama ‘Jurnal Rabo Sore’.

Jaringan
Guna menjalin komunikasi dengan komunitas lain di luar kampus, KRS terlibat dalam menggagas ‘Poros Sastra Timur’. Poros Sastra Timur adalah lingkaran komunitas dari berbagai kota sebagai upaya untuk melakukan sesuatu yang lebih gawat.

Biodata KRS
Lahir pada bulan Maret 2003 di FBS Unesa, di sore hari.
Penggagas Didik Wahyudi (Sastra Indonesia 98), Alek Subairi( Seni Rupa 98), A. Muttaqin (Sastra Indonesia 2002), Heru Setiawan(Sastra Indonesia 2000), Novica (Sastra Jepang, 2002) Ruri Astuti Prabawanti (Sastra Jepang 2003), Silvi Kumala(Sastra Jepang 2002).
Diskusi rutin setiap hari rabo sore di joglo FBS unesa

Buku yang telah diterbitkan.
Album Tanah Logam, (2005) (Memuat kumpulan puisi tiga penyair yakni A. Muttaqin, Didik Wahyudi, Alek Subairi)

Duka Muara , (2008) (Memuat kumpulan puisi tujuh penyair rabo sore, yakni: Arif Rahman, Dodik kristanto, fauzi Ballah, Ilham Persyada Sharif, M. Sijjib, M. Ashif Hasanuddin, A. fathoni.

Media - Jurnal Rabo Sore (JRS)

Alamat Pondok Jati Babatan Gang VG/03C Surabaya Kampus Unesa FBS Lidah Wetan
Email: rabosore@yahoo.co.id