Selasa, 03 Februari 2009

Naskah : Teatrikal puisi


“MUNAJAT APEL MERAH”

Naskah/sutradara: Endro Wahyudi

Adaptasi dari Puisi " Munajat Apel Merah" karya A. Muttaqin

Pimpro           : Putri Mayasari

Wapimpro     : Widiarti

Aktor              : Wulandari, Cindy, Nisa, Norma, Alia, Risty, Aulia, Irna, Ashif, A. Fathoni, Achmad

Artistik/Perlengkapan           : Taqin, Ballah, Dody, Alek

Musik             : Gepeng Flut, Arif Rahman, Ilham.

 




Situasi: Seperti dalam suatu habitat…bermula dari keadaan sunyi dan hening..cahaya pun ada bermula dari pantulan-pantulan proses aktivitas alami di sekitar habitat

Realitas panggung:
Lampu black out…hingga benar-benar tercipta suasana yang hening (kurang lebih 5 menit ke atas)..lamat-lamat (bersamaan dengan cahaya lampu yang menyinari slide, terdapatlah bentuk-bentuk bibir yang menyerupai apel menempel lekat di kain slide (siluet) lalu…terdapatlah suara seperti irama doa, dengan nada penuh tekanan, lembut,histeris, dan beberapa macam karakter doa…

Koor (terdiri dari beberapa orang) :
guusti, guusti,guusti, guusti...guuuustiii.. (nada agak cepat seperti orang wirid).

Orang 1&2:
Seperti orang berteriak dengan lantang..tapi masih dalam carakterisasi doa…” duuh guustii….duuuh guuustiiii…duuuh gussstiii (irama doa bergantung pada suasana yang tercipta…(bersamaan dengan suku kata irama terakhir..pinggiraan batas panggung muncullah gerak eksplorasi codot-codot dengan karakter gerak sangat rakus, radikal (kondisional) bergerak seperti mengelilingi satu-satunya sumberr hidup yang paling besar dalam habitat. Yakni tanaman apel, yang merah merona penuh goda, yang sudah mengambil blocking di awal, dan bersamaan atau sekaligus bagaian dari setting dan property realitas panggung, …

Tanaman apel:
Bentuk diilustrasikan oleh beberapa actor dengan gerak-gerak teatrikal. berposisi seperti instalasi, dengan blocking di sudut central panggung…tetap ada gerak..,gerak-gerak ritmis, gerak seperti daun yang tertiup angin… “aku tahu esok atau lusa bakal jatuh.. (satu orang dengan nada lemah tapi intonasinya kuat)
Lalu diikuti orang satunya, yang juga sama-sama menggambarkan apel. Dengan dialog yang sama..dengan nada yang sedikit berkarakter tawakal…lalu saling bersahutan…hingga tercapailah pada satu nafas yang sama..(suara koor Apel) “Gusti (dilantangkan satu orang) lalu suara koor, “ Aku tahu esok atau lusa bakal jatuh. Saban malam tangan-tangan mungil menyentuh lubang dalamku, hingga hatiku basah dan mataku sekuncup biangglala, hingga jantungku terbuka dan kulitku jadi merah…

Para codot bergerak kian liar. Bersuara tajam (seperti mendenguung, bagai orang kalap yang tak bisa lagi mendengar indahnya suara, cantiknya dunia, dan tenangnya pikiran dan hati untuk berbagi rasa dalam habitatnya..Teriakkannya terdenganr seperti mau memangsa, gerakannya liar tak terbaca…(mendekatlah para codot, bersamaan dengan masuknya musik (semisal irama gelang alit banyu wangian)..para codot bermonumental, dengan ekspresi total, seperti terasa mengancam ketentraman dari keberadaan tanaman apel.

Vocal di balik layer siluet:
Gusti..gusti..tapi…,, peduli apa, codot-codot telah mengasah taring dan kakinya. Dan tak bias kusembahkan cintaku padamu..


Tanaman apel:
(gerak gesture, dengan sedikit slow motion) ”Semoga kau tak marah gusti...(nada sedikit tinggi) ” Seeemooogaa, seemooga,,, kau tak marah gusti...(koor tanaman apel) lalu separoh dari orang apel, menyahut ”sebab wangi kembangku abadi.
Wangi kembangku abadi...wangi kembangku abadi.( bersamaan hilangnya vokal...cahaya dengan perlahan iku redup)

Panggung dalam keadaan gelap...hening...musik dengan irama kosong, dengan lamat-lamat mengusai suasana realitas panggung...(hingga benar-benar hening)..lalu muncullah vokal dibalik panggung (koor) ” Betapa sunyi malam-malamku kini. (dengar power penuh tekanan..irama datar..” Betapa sunyi malam-malamku kini..Seekor laba-laba memintal langit lain di atas kepalaku, sayap serangga bernyanyi sendiri, dingin dan perih...

Tanaman apel:
( lampu fokus pada para tsanaman apel yang monumental) dengan melakukan gerak (dengan otot sebanding) yang penuh karakter. ”Gusti..kemana kunang-kunang yang dulu kau kirim untukku” (dengan koor)

Tanaman Apel 1:
Angin sore tak pernah mengabarkannya padaku.( diperkuat dengan gestur)

Tanaman Apel 2:
Apa dia juga mati gusti, apa dia juga mati gustiii,....apa dia juga matiii,guuustii? ( tiap aktor lakukan gerak eksplorasi(saat berdialog,, Seperti pencarian Tuhannya,,,.) lalu monumental (saat dirasa gerakan udah pas). Beberapa waktu kemudian..., Terjadi proses perubahan bloking antar aktor tanaman apel (eksplorasi gerak), lalu muncul dialog dengan intonasi kuat dan tempo yang tepat, “duuhh bintang pagi, bagaimana anakmu bisa mati? (dan diikuti dengan kooor tanaman Apel) “atau ia kembali memelukmu, sebelum matahari, menjatuhkannya di kuning tai? (diam sejenak secara serempak, para codot lakukan gerak intimidasi kembali (eksplorasi).

Di area bloking tertentu (tanaman apel tampak dengan ekspresi pasrah (tawakal)... lampu mengarah pada siluet..tampaklah barisan tak teratur bentuk bibir yang menyerupai apel,bergerak-gerak (berkomat kamit) bersamaan munculah dialog dari para bibir tersebut, (yang diselaraskan juga dengan gerak gestur para tanaman apel), “gusti, pagi telah kembali.(di tirukan dengan dialog yang sama, dengan pola SUARA ECHO yang mengejek, oleh tanaman para codot...”Peri-peri menangis berpeluk sepi (codot masih berperilaku sama)

Suara siluet :

Dan kini, kelopak yang telah sempurna jadi tangkai ini,(tanaman apel mensinergikan gerak) adalah jemariku yang masih menggenggam tanganmu (diikuti dengan bentuk gerak.Salah satu aktor apel,mengepalkan genggaman tangan keatas. Dan para apel yang lain memegangi tangan tersebut di bawah kepalan).


Tanaman Apel: (koor)
Esok, bila anak-anak melemparku, atau pencuri mengambil sari cintaku untuk Mu, Kenyangkanlah mereka.. ( terjadi perubahan ekspresi dari para codot, yang kemudian bersamaan dengan waktu, terjadi gerak monumental (seperti orang mati yang tersiksa)....”Sebagaimana kau mengeyangkanku dengan daging putih, yang lebih lezat (penuh tekanan dan power vokal) dari sengat mani yang membuat mereka lupa dan berahi....(lampu langsung black out) Lagu dan musik ala suluk masuk...


Surabaya 2008

Sabtu, 02 Agustus 2008

Sebut Saja Ia Perempuan

Oleh Yusuf Ariel Hakim

Sebut saja ia perempuan. Entah mengapa aku suka sekali menyebutnya begitu. Satu yang pasti, aku tidak tahu persis pernah bertemu di mana. Barangkali ingatanku yang tak begitu cakap mengingat kenangan. Tapi mataku mengatakan kalau ia benar-benar perempuan, tak usah kau tanyakan yang logis kepadaku mengapa aku suka menyebutnya demikian, karena ia sendiri sangat suka sekali dipanggil demikian. Dan ia perempuan, sangat berterima kasih sekali padaku dengan sebutannya itu. Sejak saat itu ia perempuan selalu mengikuti kemana aku pergi.

Awalnya aku sangat kaku ketika ia perempuan memintaku bersedia menjadi teman bicaranya saat kita bertemu. Tentu saja, aku sangat sedikit curiga padanya, kenapa ia perempuan tiba-tiba membuat keakraban yang bagiku benar-benar sangat canggung. Ataukah ini hanya perasaanku saja yang berdebar-debar untuk mencoba respek berbicara dengannya. Dan sungguh-sungguh ternyata ia perempuan benar-benar tidak peduli dengan sikapku padanya.

Maka dari itu, aku meminta kau untuk sudi memecahkan kasusku yang sangat membuat hidupku menjadi sangat pelik. Itu pun kalau kau mau percaya pada semua ceritaku. Tapi meski kau tak percaya dengan ceritaku, aku tetap akan menceritakannya, tentu saja dengan gayaku sendiri untuk menceritakannya.

Satu yang pasti, aku pernah bertemu dengannya, ia sosok perempuan. Murni seorang dari wujud manusia yang berlekuk tubuh proporsional. Matanya yang lentik. Pipinya yang berlesung pipit. Dan dadanya yang berisi serta hidungnya yang mancung, menggambarkan seperti sosok selebritis yang pernah aku baca dalam sebuah tabloid perempuan.

Seperti sebuah kisah drama romantis atau seperti sebuah pertunjukkan teater, di mana tokoh perempuan yang selalu digambarkan klasik dengan airmatanya ketika dirundung masalah bercerita terbata-bata tanpa permisi dulu kepadaku, begini:

Setiap laki-laki selalu sama, begitu klasik dan pembual. Tak ada cerita yang tak pernah mengatakan sosok lelaki tak pernah selingkuh. Ah, mengapa aku begitu bodoh dan terpedaya olehnya, sosok lelaki.

Aku pun yang saat itu tengah berada di sampingnya, tentu saja merasa terkejut dan sedikit marah tatkala kejelekan kaumku diceritakannya, meski aku sendiri juga agak sepakat dengan kata-katanya itu, maka aku pun mencoba masuk dalam penceritaannya. Tentu saja, seperti lelaki dalam kisah-kisah romantis atau seperti sebuah pertunjukkan teater, aku pun pura-pura merasakan kesedihannya.

Setiap perempuan selalu sama, sepintar dan sepandai apapun dia, begitu mudah terpedaya dan mudah terbujuk rayuan gombal dari laki-laki. Tak ada cerita yang tak pernah mengatakan perempuan tak pernah terluka oleh laki-laki. Dan rupanya seakan-akan bagi mereka, bahwa menangis adalah sebuah senjata pamungkas bagi laki-laki. Bahkan banyak laki-laki bertekuk lutut dengan senjata mereka ini. Ah, mengapa aku begitu bodoh dan terpedaya olehnya, sosok perempuan.

Ia perempuan yang saat itu tengah berada di sampingku, tentu saja merasa terkejut dan sedikit marah, namun sedikit memberi senyum tatkala kehebatan kaumnya aku sebutkan. Dan ia pun mencoba masuk dalam penceritaanku yang sebenarnya hanya sebuah kisah pembicaraan yang tak pernah disengajakan ini, tapi merasa disengajakan oleh waktu yang sebenarnya tidak tepat ini.

Aku tahu engkau tak lebih sekedar berpura-pura dan sedikit beragumentasi untuk menyatakan bahwasanya engkau turut merasakan kesedihan diriku, bukan. Tak usah kau jawab, aku sebenarnya tidak butuh perhatianmu apalagi belas kasihanmu. Percuma, engkau berputar-putar mencari kata-kata hanya untuk menyejukkan hatiku ini, lelaki.

Gila, pikirku sosok perempuan ini. Tapi sebagai lelaki yang bolehlah disebut sejati, aku pun pura-pura menunjukkan keterkejutanku, kemarahanku. Tentu saja aku bungkus dengan embel-embel ketulusan kata-kata yang manis.

Nah itu yang kumaksud, terkadang engkau salah maksud dengan perkataanku, perempuan. Boleh kan aku panggil kau demikian? Apa untungnya aku mengasihanimu? Dan apa untungnya aku turut merasakan kesedihanmu. Serta untuk apa pula aku berputar-putar kata untuk menyakinkanmu apalagi bermanis-manis ria dengan kata-kata yang tak ada jelas maksudnya. Percuma! Engkau nangis sampai keluar matamu pun aku bahkan tak peduli. Sah-sah saja engkau menangis seharian atau kalau perlu berminggu-minggu sampai mungkin bertahun-tahun, toh aku tidak pernah ada kan dalam skenario ceritamu, bukan? Hahaha, lanjutkan kembali aja, rengekanmu itu. Aku rasa engkau suaramu benar-benar terasa merdu jika menangis. Ini bukan memuji, atau mencaci, tapi benar adanya dari pandanganku semata.

Aneh, pikirnya tentang aku ini. Gelagat penasarannya pun terbaca olehku. Dan aku mencoba menunggu jawabannya atas pernyataanku itu.

Diam.

Hening.

Sepi.

Tak ada suara.

Tak ada tangis.

Tak ada marah.

Tak ada kata-kata.

Detik.

Menit.

Jam.

Berlalu.

Gila, teriakku keras-keras memecah kesunyian. Kenapa kau tak bersua? Kenapa kau tak marah? Kenapa engkau diam? Kenapa tak menangis lagi? Kenapa? Bukan seperti patung begini. Sinting, perempuan edan, kau!

Diam.

Hanya terdengar gaung-gaung suaraku, memekakkan telingaku sendiri.

Jawablah perempuan, jawablah. Ini bukan kisah-kisah romantis atau sebuah pertunjukkan teater yang dramatis. Ini kenyataan, antara kau dan aku. Tidak ada penonton, maka bicaralah. Tidak ada siapa-siapa.

Sepi.

Hanya terdengar gaung-gaung suaraku, memekakkan telingaku sendiri.

Edan. Janganlah begini perempuan? Apa maumu dariku? Apa keinginanmu? Jawablah! Bersuaralah! Jangan bikin aku tolol dan menderita seperti ini.

Tiba-tiba aku melihat gelagat bahwasanya ia perempuan akan segera marah. Atau setidak-tidaknya membikin ucapan yang sepadan. Atau tamparan-tamparan tangan di wajah seperti dalam kisah-kisah drama romantis di beberapa televisi yang pernah aku lihat.

Ia berdiri.

Ia berdiri.

Ia berdiri.

Terima kasih, aku suka dengan gayamu. Aku suka sekali kau memanggilku perempuan. Romantis. Belum pernah aku mendengar kata-kata sebutan itu, padaku lelaki. Perempuan, ya perempuan. Mungkin itu nama yang pantas untukku, atau memang benar-benar itulah namaku yang telah aku tanggalkan beberapa tahun lalu. Perempuan, yaya perempuan, yaya perempuan tiba-tiba ia tertawa sendiri seperti tak mengacuhkan kehadiranku di sisinya.

Kakiku lemas.

Bibirku bengong.

Dan ia perempuan masih tertawa, sendiri.

Keras dan makin keras.

*****

Biodata penulis:

Yusuf Ariel Hakim. Lahir di Surabaya, 1 April 1982. Bergiat di KRS (Komunitas Rabo Sore). Masih tercatat sebagai Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya.

Kamis, 05 Juni 2008

sajak-sajak Arif Rahman Asydiqi

Mimpi Lebah

Aku masih mengingat
wajahmu saat membelah
gelisah sunyi di tempat orang orang
mengumpulkan harap.

Mula mula kau berkisah tentang kenari
yang sayapnya patah dipukul
riuh kering tawa anak anak,

hingga gambar bunga di kamarmu
yang dihinggapi mimpi lebah
agar ia bisa berhenti menyusu matahari
sebab ia ingin menjadi biru, biru,

setelah itu kau pun pergi
dihantar angin nakal yang kerap
menggodamu

dan aku kembali mematung
seperti tidurmu
di siang dengung

(2007)



Pengantin Bulan

Aku begitu malu
pada tubuhku yang tak lagi
ditumbuhi sungai

sebab anak anak kemarau
telah memeluk pundakku
aku lihat november telah memilih

hujan sebagai kekasihnya
seperti pengantin bulan
yang berjalan
di taman perawan

aku pun tak tega
mengusik musik percintaan mereka
dengan ceracau dan rindu,

mungkin,
aku sekarang tak lebih
seperti patung usang
yang mendiami lengan penyair biru.

(2007)


Hulu Cemas

Bumi menjadi ladang
air tak pernah henti
tumbuh di satu sisi,
kemudian kawin
beranak di seluruh tepi.

Jika saja kayangan runtuh
maka tanah inipun
akan menjadi hulu cemasku
sebab disana juga ada sungai
yang mengalirkan dosa
orang orang yang nuraninya terbelah
jauh dari tubuh:

Maka masihkah ada Nuh ?

(2007)



Arif Rahman Asydiqi lahir di Surabaya 24 November 1986. Mahasiswa Sastra Jepang, Universitas Negeri Surabaya, (Unesa). Bergiat di Komunitas Rabo Sore (KRS) dan Teater Institut. Puisinya mengisi media kampus, jurnal Poros Sastra Timur, koran surya, juga terkumpul dalam antologi Komunitas Rabo Sore Jilid II"Duka Muara" Sekarang bermukim di jl. Jend. Sutoyo 17A 61256 Waru Sidoarjo

Selasa, 27 Mei 2008

Sajak Dodik Kristianto

Bendi

ia akan lewat, tepat jam 12 malam
dengan kuda yang kugambar dari tamasyaku
tapaknya masih mengambang dipadang hijau
sampai dicurinya sepatu di kakiku,
jantung kami seperti mayat menyatu

pada satu kesempatan, barangkali
kudapati keretakereta itu berlari
menghentikan mimpi
dan rumput yang kering sendiri

2008


Menara Gading
-Octavio Paz

di depan sergapan puisimu, aku akan bersiap
memasukimu, mengitari halaman yang telah
memecahku, mencuri kilatan bayanganku

aku terpesona gerimis yang melindungimu
jalanku kau buka, batubatu kau remukkan
agar aku mampu berguru pada bahasa luka

seperti nasib milikku tumpah dalam
gelas kristal bianglala. tapi seperti perasaan
kanakku yang ingin tahu, ada jutaan kota
berkerak di mesin pikirmu

sebelum akhirnya kau padatkan di dunia kelam
kau masuk pada puisi. dahagaku kau gubah
jadi kebahagiaan

hikmatilah, sebab wajahmu kusentuh perlahan
lalu hilang di antara daratan bulan

seperti kumimpikan tubuhku berbaring
dan masa laluku melayang di depanmu

2008

Dody Kristianto, lahir di Surabaya, 3 April 1986. masih berkuliah pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Menulis puisi, cerpen dan sedikit geguritan. Karya-karyanya lebih banyak terpublikasi pada jurnal independen dan media online. Beberapa puisinya juga terangkum dalam beberapa antologi, seperti Eksekusi Kata (2006), Surealisme Cinta (2007) Kemayaan dan Kenyataan (2007). Duka Muara (antologi bersama KRS 2008) Bergiat pada Komunitas Rabo Sore (KRS) dan dipercaya sebagai redaktur Jurnal Rabo Sore. Saat ini tinggal di Sidoarjo.

Minggu, 25 Mei 2008

PUISI M. Ashif Hasanuddin

Bulan Sipit


bulan sipit itu, seraya berlari dalam fantasiku,
mengejar waktu yang terbentur dengan malam keenam

aku tak siuman olehnya, malah menikmati
separu wajahnya lewat sela-sela daun palam

sayup-sayup terdengar suara lirih membisik telinga
agar aku membuka gelaran sajadah malam

untuk menimbah air lebih banyak
karena bulan sipit bertanda bahwa;

malam ini masih muda,
masih muda…

Surabaya, 29 September 2006


Ponten tanpa Pintu

: ira

aku baru saja mengukur jalan yang melengkung sedikit
di mana, disampingku teknologi mengalir deras di atas karet berulang kali
disana, disaat sepatu dan kaki terlempar bersama-sama
dipinggir tembok yang berjejer gambar telanjang itu
taufan agak santer menembak pada bagian muka dengan seni-seni sengat

separuh jalan telah usai ku tempuh
tahu-tahu langit bukan lagi lautan melainkan
sepatu perajurit bersemir kilat memahat dengan air di kepala
yang menambah aroma baru. serta menggilakan alat bicara
“kelamin jantan tak berpendidikan”

baru 5 menit matahari kembali telanjang
aku tinggalkan tempat berteduh menuju perhubungan
: ponten tanpa pintu adalah perjamuan pertama mataku
apakah 500 rupiah kau tak punya?
padahal lebih aman, bersih tanpa polusi

Surabaya, 14 Mei 2007

M.A. HASANUDDIN Lahir di Gresik, 29 Maret 1987. Kini tercatat sebagai Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, UNESA. Sekarang dipercaya sebagai ketua Komunitas Rabo Sore (KRS) hingga 2009.

Rabu, 21 Mei 2008

sajak-sajak A.Muttaqin

Rumah Batu

Di jantungku,
ingin kubuat rumah batu,
supaya bisa kumasukkan kau
ke situ. Lalu,
kugali sebuah telaga,
bertabur ikan mungil
yang lalu memanggil namamu.
Setelah itu,
lewat mulutku yang perih
menyusut aku menyusulmu
agar tak perlu aku berkata
untuk cinta, dan
kita sama bercanda-manda
menatap tuhan mungil
yang kubuat
dengan satu kata purba

(2008)


Ulat

Daun-daun ini yang mengajarku merapai bunyi,
menghikmati matahari yang silih-berganti dengan
baju subur berderai, memekari bunga dan mimpi,
memanggili batu dengan bahasa lampau, agar
kembali berdenyut sepurut jantungmu, memecah
selunguk rumah lapuk nan sepi, seperti saudaraku:
Sokhabatmu, yang mendengung dan terbang dari
kembang ke tembang, dari bayang ke remang.
Tapi, ia selalu berpulang ke dadamu, ke sepasang
goa mungil di gunung putihmu, di mana ia mula
membuka mata, memulai kembara, menghisapi
susu perdu dan memanggilmu ibu. Apakah dia
anakmu? Anak dari pengucapan dalamku, yang
(seperti kupu-kupu) menjauh dari ujung lidahku.

(2008)

Marley

Gerimis yang nitis di telingaku menerbangkan
pasangan codot yang bertahun-tahun menunggu di
situ. Menunggui buah kuno yang mirip mengkudu.
Seraya menukar kaki dan kepala, seolah tabik pada
tanah. Sebab jangkrik dan walang kerik tengah
bernyanyi, membagi perih dan pergi, seperti aku
yang hendak meninggi, menyusul kupu-kupu yang
terbit dari bibirmu. Kupu bersayap hijau yang
terang menjauh dari bunga tembakau ke kerdip
bintang pengacau. Sampai segala satwa melonjak
bersama katak nan sorak. Dan gerimis di telingaku
menebar benih putih, yang lebih subur dari jamur,
lebih manjur dari puisi lulur.

(2008)

Kupu Terakhir

Terbang jualah yang membuatmu bimbang,
biar tak sanggup kau menghilang,

meninggalkan sekuncup rindu di dadaku
yang tengadah mengimpikanmu:

Kau, yang memekarkan kuncup perdu
di mataku, mata batu, juga bulir padi

yang gemetar, menahan birahi mawar
dan musim memar.

Di ranting garing,
senja dan gagak terbaring,

seperti tak kuasa mengelak semerbak
yang menanjak ke ujung kening.

Dan di puncaknya yang bediding,
Kau pun datang,

membimbing ajalku
berpaling, ke puncak hening.

(2008)

A. Muttaqin, lahir di Gresik, Jawa Timur, 11 Maret 1983. Lulus Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Bergiat sastra di Komunitas Rabo Sore.

Sajak-sajak Alek Subairi

Tafsir Ikan


Telah kurindukan sengau batu hitam berlubang, tempat benih-benih bersemayam. Juga tangis kecil perempuan yang ingin sampai kepada akar-akar pohon yang membadai. Agar ada yang tetap tegak meski jejak musa ditafsir ribuan air kali. aku melihatmu melepas baju kehormatan. lantas udara mengirim salam terbuka. Datanglah seperti kau menghampiri makan malammu dengan empat orang kenalan.

Masing-masing ingin menuang air putih ke gelasmu

Orang pertama datang dari ketulusan karena engkau setia mendengar keluh kesah, meski punggungmu lumut menggigil. Dan malam yang kau sulam kembang setaman, menemukan kekasih dengan ombak kecil di dahinya. Bukankah pandanganmu telah kau jatuhkan kesemua arah? lantas kau leluasa berenang. Semakin jauh ke dalam

Orang kedua adalah kejujuran yang kau angkis dari ceruk duka. Lalu kau kabarkan kesetiaan pada mata, telinga, hidung, mulut, kelamin, juga dada yang menyembunyikan laut abad-abad yang tenggelam. Mata kirimu bersaksi saat mata kanan mengerling pada bunga ombak. lalu kau kirim alamat pada mata kaki
“Wahai mendekatlah pada yang lemah, seperti rindu nelayan pada tumpukan pasir”

Orang ketiga datang dari kerumunan. Ia dari bangsa perempuan, namanya, rahim. Bila anjing menghardik dan pintu pagar berwarna kelam, kau melambaikan pelukan seperi bisik gerimis di kebun belakang.
”Jangan tidur di kala petang. Sebab urat nadi ingin benar mendengar kepak warna yang meninggalkan rumah pelan-pelan.

Orang keempat adalah pengertian. Kadang wajahnya securam lembah. kadang perawan yang datang menirukan bunyi gamelan. Kali ini ia menutup separuh wajahnya dengan kain hitam. Mengabarkan laut yang terbelah. Lalu matanya menjadi ikan-ikan yang berenang ke dalam kalbu. Kalbu menjingga, menerima uluran tangan ibu semesta

“Paman, paman! hatiku menagkap ikan yang melompat dari kematian”


surabaya 2008

Labang mesem

Aku dulunya, airmata yang terlempar dari mata kanan anak gadis di bawah petang yang diburu. Karna seorang lelaki yang menanam biji matanya pada daun salam, telah mengasah hari depannya dengan lengkung besi. Lalu aku tumbuh menjadi sebatang pohon yang memberi naung pada tualang. “siapakah namamu dinda?” tanya seseorang yang menaruh kembang tujuh warna di akarku.

Akupun memuncak sewarna kuning pengantin. Di bawahku, umbul-umbul dan bunyi-bunyian yang mengabarkan rahasia selendang.”Wahai, siapakah di antara kalian yang kelak menerjemahkan bibirku yang bisu” lalu hujan tak datang. Orang-orang mencari sungai. Juga tetabuhan yang mengundang bianglala.”Adakah yang hendak memberi senyuman dalam kering begini?”

“Tunggu aku di bawah beringin, kanda. Jika kau setia pada biji mata yang kau tinggalkan di keningku. aku pasti datang bersama kabut tipis yang menyimpan anak-anak gerimis. dan pada hari itu, hadapkan wajahmu pada gundukan tanah, tempat gembala mengawasi kambing-kambing. Bukankah telah kau rindukan airmatamu sendiri?”

Lalu pertemuan itu, seperti maut yang mendekati orang-orang kudus, seperti gadis yang mengangguk.kepada pinangan yang dijanjikan

2008

Bunga Ombak


Gerangan apakah yang menuntun bunyi liris dari debur yang kelam
orang-orang dalam kidung berangkat menggali subuh seperti nuh.
suaranya, suara angin berulang-ulang di dahan-dahan. Adakah yang jatuh sebagai sabda pagi nanti? Lalu kerling anakku mengupas buah jamal yang jauh dari ingatan.

Hanyutlah rinduku bersama bunyi liris ke sendang-sendang. Menghijau rumput dan kenangan kepada inkarnasi. haina, haina, bulan buntung minta ditanam, bulan buntung minta ditimang. Sebab
rumahnya mau di makam

Duhai, berapa kali telah ku lagukan riang-murung ombakmu supaya
tirakatku menjelma ikan yang mengerti arah kebajikan. Lalu mataku yang majnun tak lagi berdusta pada kematian. sebab tubuhku berlayar ke palung namamu paling perempuan

Haina, berikan kecupanmu, agar laut tenang kembali.

2008




angon

akupun kembali asing ketika pohon tubuhku
menemukan musim kemuning yang membawa jejak lapar
ambillah satu dan bawa pergi kekasihmu ke tempat yang teduh

angin kecil datang dengan hembusan amat kuat
berikan tanganmu, agar aku lewati kesumat ini dengan
keringat dan tatapan yang mengurai tapal batas

lalu tak ada mimpi pada malam berikutnya. sebab udara telah
membangkitkan yang semula terpendam. aku telanjang, gusti.
dan jendela mataku melihat isyarat warna bermekaran

ku dekati yang paling hijau untuk memastikan risalah tangis
yang menjelma gerimis. lalu benih dari tualang rindu tumbuh
menjadi kerling mata kambing yang berlari ke luar pagar

berikan pelukanmu sebagai penanda kepulanganku kelak.
bahwa kau juga menanam kembang pada jejak yang kau tinggalkan
lalu kubaca air yang turun begitu ritmis.

o, mengapa menangis


november 2007